“La Tahzan, Allah be with you allways”

 

 

Assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarokatuh,

 

Saya seorang putra satu-satunya tengah dari 5 bersaudara perempuan, lahir di Surabaya tepatnya dekat dengan pesisir pantai sebelah timur kota Surabaya, anak seorang pejuang yang dimakam pahlawan Ngagelrejo Surabaya dari TNI AL yang telah wafat ketika saya masih duduk dibangku SMP, dan saya dibesarkan serta dibimbing oleh seorang ibu (Siti Maryatun – almarhumah – 2008) dengan penuh kasih sayang, gigih sementara beliau ditinggal dalam keadaan mengadung adik saya yang bungsu “subhanallah” (Prasetyowati, ST, MT – sekarang telah menjadi Dosen Fakultas Teknik – Teknik Kimia di UNSRI Palembang)  dan hidup sederhana bahkan seadanya bersama kakak Rusminingsih  & adik saya Sri Andayani, juga bertetangga dengan kakakku Suprihati, sehingga saya harus ikut pakdhe dari ibu saya di Semarang, meneruskan sekolah di Proyek Perintis STM Pembangunan Negeri Semarang di Simpanglima karena mengalami sakit tidak bisa jongkok yang saya alami setelah bermain sepakbola di sekolah maka pada tahun 1976 saya pindah sekolah di Proyek Perintis STM Pembangunan Negeri Surabaya, Jl. Kaliwaron Sby,  selanjutnya tahun 1979 bekerja di RS Dr. Soetomo Surabaya, pada Instalasi Pemeliharaan Sarana & Telekomunikasi  – Bagian Teknik,  dalam status Capeg Depkes, lalu pada tahun 1 Februari 1983 diterima  bekerja di PLN UPB Ungaran (Jl. Unta Raya Semarang) mendapatkan kontrakan rumah di Jl. Patiunus Semarang, kemudian tahun 1983 diperintahkan mengikuti pendidikan Telekomunikasi di Udiklat Ancol selama 3 bulan, setelah itu bekerja pada Bagian Teknik – Seksi Telekomunikasi – UPB Ungaran, selanjutnya tahun 1985 diperintahkan mengikuti pendidikan Dasar Komputer & Microprocessor di Kodikal Surabaya selama 3 bulan, tempat yang tidak bisa saya lupakan sehingga derita cacat kedua kaki “Paraparesse Spasky Part” karena kecelakaan dinas ketika melaksanakan pendidikan tersebut, ketika itu musibah terjatuh dari ketinggian pereng bukit + 8 meter di Selecta, Batu Malang (malam sebelum terjatuh saya sudah mendapat firasat kurang baik hal itu saya sampaikan kepada rekan satu kamar saya  Sdr. Rohadi & Djemin, juga  sebenarnya saya sudah laporan ijin tidak bisa ikut rombongan karena ada keperluan keluarga kepada Komandan Pusdikeka tetapi tidak diperkenankan) setelah terjatuh saya  masih melakukan aktifitas main bola voli , sepakbola, senam rutin pagi, tepatnya setelah 5 hari dari musibah tersebut barulah saya mengalami kelumpuhan kedua kaki, yang sampai sekarang masih terasa kesemutan di tungkai bagian bawah (juga clounus – bergetar2 tanpa komando), juga telah melakukan 2 operasi besar, sedangkan pada operasi pertama saya laminectomi pada th.4-5 telah mengalami pendarahan total sehingga harus masuk ruang perawatan ICU selama 3 hari (koma), pada operasi kedua adalam operasi plastik pada bagian pantat karena decubitus akibat tiduran & peralatan traksi/bandul 5 kq, kesalahan diagnosa, malpraktek oleh kedokteran fisioterapi RS AL Dr. Ramelan Surabaya (tempat dirawat pertama selama 2 minggu sebelum saya dipindahkan ke RS RKZ Santo Paulo Surabaya), saya dirawat selama hampir 10 bulan di terpat terakhir, kemudian dilanjutkan opname di RS Telogorejo Semarang selama 2 bulan (karena atas saran dinas)

Selanjutnya dengan memakai wheelchair (kursi roda) saya diwajibkan oleh dinas dengan surat resmi (per 1 Maret 1986, agar supaya masuk bekerja sebelum batas waktu sakit 18 bulan terlampaui

Dengan masih dalam kondisi berdarah-darah pada bagian pantat karena operasinya mengalami infeksi saya tetap semangat & gigih dalam hidup, cobaan kedua muncul dengan perselingkuhan sang istri Yatini Yahman, ketika saya masih dirawat jalan di RS Telogorejo Semarang, pengakuannya dia melakukan perselingkuhan dengan orang yang saya minta membantu saya mengantar pulang pergi ke kantor, yang malah berbuat mengkhianati saya.

Pada 1 September 1986 telah cerai resmi atas ijin dinas dan anak hasil pernikahan saya asuh bersama keluarga di Surabaya (atas keputusan Pengadilan Agama Semarang, Jl. Ronggolawe).

Inilah awal saya harus hidup sendiri dan mandiri dan sementara saya harus pindah rumah & pindah lokasi pekerjaan dari Semarang ke Ungaran,

Karena pemberian Allah SWT dan alhamdulillah setelah bertemu seorang gadis yatim piatu Yati Anggrek Bulan di sebuah asrama Polisi maka pada tahun 27 Maret 1988 saya  menikah lagi (dengan sederhana tanpa bergelimang materi) , juga atas ijin Allah SWT saya dikaruniai 3 orang putra putri tetapi atas kehendakNya, 1 orang dari anak saya yang kembar putri telah berpulang kerahmatullah yang setelah dirawat di ICU RS Elizabeth Semarang karena menderita infeksi pusar, sekarang tinggal 2 orang putra putri plus putra yang dari istri pertama (Danang Priyambodo, Duppy Purbayatry Septiano, Dinny Pratikta Alliyanna),  untuk anak saya yang Danang Priyambodo telah menikah dan dikaruniai dua orang putra (Deva Naura Putra Pratama, Devindra Dwi Anggara Putra), sehingga saya alhamdulillah sudah bercucu 2 (dua)orang.

 

Demikian sekelumit kisah hidup yang saya alami, semoga Allah SWT masih senantiasa membimbing saya beserta keluarga, yang alhamdulillah sampai saat ini masih bekerja Bidang Enjiniring di PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali – Region Jawa Tengah & DIY, Jl. Jendral Sudirman Km 23 Ungaran, Komplek GITET 500 kV Ungaran

 

Wassalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarokatuh,

 

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: